‘Barang siapa menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia’.
Demikian ujar-ujar yang kerap terdengar dari banyak penggiat media. Cukup beralasan memang, karena melalui media semua informasi bisa didistribusikan dan diwacanakan ke dan oleh publik. Media pulalah yang bisa menjadikan opini publik bisa digiring dan dibentuk, bahkan hingga ke ruang paling privat seseorang. Mungkin karena sedemikian besar pengaruhnya sehingga media dimasukkan sebagai salah satu parameter demokratisasi di suatu negara.
Sedemikian kuatnya pengaruh media ini, seorang kawan penggiat media kerakyatan di Bogor, menyatakan bahwa media yang sanggup membentuk opini publik ini telah menyebabkan terjadinya ‘pseudo-reality’ di kehidupan sehari-hari. Suatu keadaan yang nyata namun sesungguhnya semu terjadi karena media –yang notabene tak bisa dilepaskan dari modal- sarat dengan kepentingan. Kuatnya intrusi media dalam mempengaruhi sering kali menyebabkan hal yang tabu menjadi lumrah dibincangkan. Hal yang tersembunyi menjadi terang benderang. Yang awalnya tak dikenal orang, namun serta merta menjadi ‘ngetop’. Sialnya, kadang kala bahkan menjadikan hal yang tak benar menjadi benar.












