You are here >
Sat 04 Sep 2010

MITRA INSANI INTEREST

  • Ekologi dan Ekonomi

'Ekologi dan ekonomi laksana dua sisi mata uang yang tidak pernah menyatu'. Provinsi Riau saat ini dalam kondisi negeri yang sedang berkembang cepat. Pembangunan industri digesa, dan investasi dibuka selebar-lebarnya dengan mengatasnamakan  peningkatan  pertumbuhan   ekonomi   dan   pembangunan. Tentu saja ini memberikan dampak terhadap kebijakan yang  cenderung  mengabaikan aspek  kelestarian lingkungan. Ikim investasi bergerak cepat, dan sang  primadona  adalah  sektor  kehutanan  dan perkebunan. Industri ini yang memberikan dampak yang sangat besar terhadap seluruh elemen ekologi, karena yang menjadi kunci dalam  usaha ini adalah lahan. Pembukaan lahan secara besar-besaran, pemaksaan teknologi, dan perampasan tanah-tanah masyarakat merupakan persoalan yang mengemuka. Seiring perjalanan waktu, ternyata hadirnya industri kehutanan dan perkebunan tidak memberikan peningkatan taraf hidup masyarakat yang ada di sekitarnya, malahan yang sering muncul adalah konflik, baik konflik dengan perusahaan maupun konflik horizontal di antara masyarakat. Ini juga memberikan dampak perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tekanan kepada pemerintah untuk lebih berpihak kepada masyarakat harus mendapatkan porsi lebih, penyadaran kepada perusahaan harus terus diupayakan, dan pemenuhan hak-hak dasar harus dipastikan diterima oleh semua rakyat sesuai pasal 33 (3) UUD 1945.

 

  • Hak Pengelolaan Sumber Daya Alam

'Community Rights for Natural Resources'. Adalah  merupakan  pernyataan yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya alam. Sudah terlalu banyak bukti selama ini. Penguasaan lahan oleh segelintir orang, pengusahaan lahan dengan satu jenis tanaman, dan pengelolaan lahan tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. Rendahnya akses masyarakat terhadap informasi dan teknologi seolah menjadi pembenar pengelolaan sumberdaya alam dilakukan secara besar-besar tanpa mengakomodir praktik-praktik kearifan masyarakat yang telah teruji selama ini. Terlalu banyak landasan atas nama masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam. Dapat kita baca, kondisi ini telah menuai banyak permasalahan, mulai dari  permasalahan lingkungan hingga bermuara pada masalah sosial-budaya. Bencana kabut-asap, banjir, kekeringan, dan hama tanaman merupakan sajian bencana tahunan bagi kita. Telah tak terhitung konflik antara masyarakat dengan perusahaan terjadi. Semua permasalahan ini harus ditanggung oleh masyarakat sebagai pihak yang paling sedikit menikmati keuntungan, namun harus menjadi pihak yang paling banyak menanggung kerugian dan bencana. Tidak ada pilihan lain: pengelolaan sumberdaya alam haruslah memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya  kepada  praktik-praktik kearifan masyarakat, kecuali kita semua akan menjadi korban dari kutukan sumberdaya alam kita sendiri.

 

  • Penyelamatan Lingkungan

'No Conservation without Considering People’s Needs'. Kepedulian terhadap penyelamatan  lingkungan haruslah diwujudkan dalam bentuk langkah nyata, oleh semua pihak, sekecil apapun. Seruan untuk peduli semakin gencar terdengar seiring dengan tingginya  grafik  bencana  lingkungan.  Isu  perubahan iklim, beserta topik turunannya, menghiasi hampir seluruh ruang penyelamatan lingkungan. Kesadaran yang datang baik hari ini maupun belakangan nanti memang tidak ada salahnya. Namun, euforia untuk menekan segala potensi bencana sungguh tidak bijak jika  malahan  melanggar  hak sekelompok orang, yang kerap kali terpinggirkan. Penyelamatan lingkungan, dengan skema dan bentuk apapun, mensyaratkan keterlibatan dan  keterwakilan masyarakat di dalam prosesnya.  Penyelamatan  lingkungan  haruslah  memberikan  jaminan  bagi  keberlangsungan lingkungan itu sendiri, beserta keberlangsungan sekalian makhluk yang ada dan terkait dengannya.

 

  • Pengembangan Masyarakat

'Dalam dunia yang didominasi oleh hasil, pengembangan masyarakat sejatinya merupakan proses'. Kelompok masyarakat  dengan  kemampuan  mengakses informasi dan menyuarakan pendapat yang rendah dikelompokkan ke dalam masyarakat yang marjinal/terpinggirkan. Mereka berada di dalam dan di tepian hutan, di sepanjang aliran sungai, di pesisir pantai, di gorong dan celah kota. Merekalah sasaran beragam proyek pemberdayaan masyarakat, yang diyakini merupakan investasi program sosial jangka panjang, namun kerapkali dijalankan dengan kerangka kerja proyek yang pendek dan situasional.  Pengembangan masyarakat sesungguhnya adalah merupakan upaya menuju perubahan aspek-aspek kehidupan yang lebih baik, melalui gugahan kesadaran pemikiran dan perilaku yang tercerahkan. Pengembang masyarakat dituntut untuk hadir dengan  originalitas niat, kejujuran perilaku, dan keberpihakan semata.

 

 





milogo
Y A Y A S A N  M I T R A  I N S A N I
 
Jl. Pembangun II No. 8 Labuhbaru Timur
Pekanbaru | Riau 28291 
Telp/Fax: +62 761 61725
mail to: office@mitrainsani.or.id


 

 

M  I  T  R  A

jikalogoegplogomfplogokruhalogo
ssslogosiemenpuulogospglogosamdhana